ekspor | impor | perijinan | global trade

Subscribe:

Collect

Collect : mengumpulkan, menagih

Freight Collect : biasa disebut dalam dokumen transportasi Bill of lading. Hal ini menunjukkan bahwa beaya transportasi atau beaya kapal menjadi beban atau akan dibayar oleh penerima barang di tempat tujuan. Artinya pengirim hanya mengirim barang tanpa membayar beaya kapal, namun penerima barang sewaktu akan mengambil barang dari kapal harus membayar beaya kapal terlebih dahulu. Besarnya beaya kapal seperti tertera pada dokumen B/L, namun jika b/l tidak memberikan informasi ini, besarnya beaya dapat ditanyakan kepada pengirim barang maupun perusahaan transportasi bersangkutan, tentunya sesuai harga yang telah disepakati antara pengirim dengan perusahaan pengangkut atau antara penerima barang dengan perusahaan pengangkut.

Prepaid

Prepaid : dibayar dimuka

Freight prepaid : biasanya disebut seperti ini dalam dokumen perjalanan Bill of lading / airwaybill. Hal ini menunjukkan pembayaran ongkos muatan / kapal / pesawat / transportasi telah dibayar oleh pengirim / shipper / penjual / eksportir. Artinya penerima barang tidak perlu lagi membayar ongkos transportasi / beaya kapal.

Arab pesan 3 kontainer kiripik lele

Meski Pameran Pangan Nusa 2010 yang diikuti 130 UKM dari seluruh Indonesia resmi ditutup Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, Minggu (17/10/2010), namun kontrak bisnis masih berlanjut dalam beberapa produk makanan olahan UKM yang diminati pengunjung (buyer) dari luar negeri.

Seperti dikatakan Direktur Dagang Kecil Menengah dan Perdagangan Dalam Negeri (DKMPDN) Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kemendag, Suhanto, bahwa produk makanan olahan seperti kripik ikan lele, telur asin rasa udang, dan obat-obatan herbal diminati buyer dari luar negeri.

“Ada pesanan kripik ikan lele olehan UKM dari Boyolali, Jawa Tengah, ke Arab,” ungkapnya, saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (19/10/2010).

Suhanto menyatakan, antara produsen makanan olahan kripik ikan lele dengan buyer Arab Saudi sendiri tengah dilakukan negosiasi harga. “Di sana (Arab Saudi) kan mereka mau pesannya tiga kontainer. Nah UKM ini kan belum pernah ekspor. Dan kita akan ikuti dan ini suatu pekerjaan rumah bagi kami untuk membina mereka dalam melaksanakan ekspor, dan kita akan membantu mereka bagaimana melakukan ekspor,” paparnya.


Menurut keterangannya bahwa UKM makanan olahan kripik ikan lele asal Boyolali ini mengalami kesulitan dalam hal pemodalan untuk menyediakan pesanan ke Arab Saudi.

Dan pihaknya kini tengah berusaha membantu agar UKM tersebut mendapatkan sokongan dana dari perbankan. “Mereka mengajukan permohonan, kita akan coba rekomendasikan ke perbankan untuk menyakinkan perbankan bahwa produk usaha ikan lele ini bisa dipercayalah,” kata dia.

Selain kripik ikan lele, lanjutnya, bahwa produk makanan olahan lainnya adalah telur asin rasa udang. Negara peminat produk UKM ini adalah Korea Selatan. “Mereka kemarin katakan sudah terima uang mukanya Rp 2 juta. Tinggal dia memenuhi, terus dia ambil katanya begitu,” terangnya.

Buyer asal Korsel, imbuhnya, memesan sebanyak 10 ribu lebih telur asin rasa udang . Dengan nilai transaksi yang telah disepakati di antara kedua belah pihak sebesar Rp 22 juta. “10 ribu lebih telur asin. Nilai transaksinya kan nilainya Rp 22 juta,” kata dia..

Sementara itu, Malaysia sendiri lebih meminati produk obat-obatan herbal buatan UKM Indonesia.


http://bisniskeuangan.kompas.com/

Port of Loading

Adalah pelabuhan muat dimana barang naik ke sarana pengangkut (kapal laut/ kapal udara/ pelabuhan pemuatan lainnya)

Consignee

Consignee adalah penerima barang yang tertulis di dalam dokumen perjalanan, biasanya di Bill of Lading, Air way bill, konosemen maupun dokumen transportasi lainnya. Consignee bisa dikatakan sebagai pembeli / buyer / importer. Sedang dalam L/C lazim disebut sebagai Applicant (pihak yang mengajukan permohonan L/C kepada bank penerbit)

Bea Masuk - AIFTA

China Free Trade Area (ACFTA) telah berlaku duluan, tahun ini Asean – India Free Trade Area (AIFTA) menyusul diberlakukan kurang lebih sebulan yang lalu (meski direncanakan awal tahun namun baru diundangkan baru-baru ini saja).
Indonesia sendiri telah menjadualkan skema penurunan tariff bea masuk dalam rangka AIFTA ini. Dengan menjadualkan penuruan tahun ini 2010 hingga tahun 2012.

Tarif Bea Masuk yang digunakan adalah seperti terdapat dalam lampiran Permenkeu Nomor 144/PMK.011/2010 tentang Tarif Bea Masuk atas barang impor dalam rangka AIFTA
Untuk mendapatkan keringanan Bea Masuk tersebut (seperti dalam lampiran diatas) dokumen impor harus menyertakan Surat Keterangan Asal barang atau Certificate of Origin Format AI asli. Dengan dokumen SKA / COO Form AI yang dikeluarkan oleh pemerintah India. Kami sendiri meski ada beberap impor dari India namun belum mendapatkan contoh SKA / COO AI ini, namun jika ada akan kami tampilkan sebagai contoh.



Didalam lampiran tersebut, tarip BM tertulis seperti ini :



Dalam contoh di gambar adalah komoditi / barang buku. Jika waktu impor menyertakan COO maka akan dikenai Bea Masuk sesuai tabel, artinya jika impor dilakukan sekarang th 2010 maka terkena 4%, dan jika dilakukan th.2012 mendatang terkena pungutan bea masuk 2%. Namun jika waktu impor tidak disertai dengan dokumen COO/AI maka akan mengacu kepada tabel Bea Masuk MFN sebesar 5% (dianggap tidak termasuk dalam rangka AIFTA) sehingga tabel BM yang digunakan seperti pada Buku Tarif Bea Masuk (BTBMI)seperti gambar berikut :



semoga membantu...

Pengawasan sampai ke kapal








Contoh Dokumen Angkut Lanjut ( BC 1.2)

Maksud dari angkut lanjut di sini adalah Pengeluaran Barang Impor dari Kawasan Pabean untuk diangkut ke tempat penimbunan sementara di kawasan pabean lain. Singkatnya seperti yang saya kerjakan Minggu ini dalam sebuah kasus pekerjaan.


Yaitu barang impor yang berada di kawasan pabean (kawasan yang berada dalam pengawasan bea cukai) tidak jadi dikeluarkan darinya karena suatu sebab, sehingga barang tersebut dikeluarkan dari kawasan pabean tersebut untuk diteruskan / dipindah / diangkut lanjut ke tempat lain.
Sebab tersebut bermacam-macam yang jelas barang tidak jadi dikeluarkan di pelabuhan seperti di dokumen. Mungkin harus keluar di pelabuhan lain atau mungkin harus dikembalikan ke pengirim yang berarti barang tersebut belum diajukan pemberitahuan impornya ke bea cukai belum diurus pajak-pajaknya dan pungutannya namun malah akan diteruskan ke tempat lain.
Saya kesulitan mencari dokumen yang dipakai, akhirnya bisa maju juga dengan dokumen angkut lanjut ini, namanya BC 1.2 seperti contoh :






Halaman isi - Table of content

Kewajiban Pencantuman Label pada barang / Labeling


Semua pelaku usaha termasuk importer (yang melakukan pembelian/ pemasukan barang dari luar negeri) untuk produk tertentu WAJIB mencantumkan “Label” dengan bahasa Indonesia yang dibubuhkan pada kemasan barang tersebut. Adapaun jika nama pada label tersebut tidak ada persamaannya atau tidak ada kata yang mewakili atau sepadan dengan nama asli, maka boleh menggunakan nama tersebut. Pelabelannyapun dapat dicetak pada barang maupun di temple, maupun dicetak pada kemasan maupun ditempel dengan memperhatikan peraturan yang ada. Aturan ini berlaku sejak 1 September 2010. Adapun untuk barang yang sudah terlanjur beredar sebelum adanya peraturan ini ada toleransi untuk menyesuaiakan pelabelan hingga 18 bulan sejak berlakunya aturan ini


Sedang kewajiban untuk importer adalah sewaktu barang sudah masuk ke daerah Pabean, jadi pendeknya barang yang diimpor sebelum masuk ke Indonesia sudah harus berlabel. Dengan sebelumnya meminta ijin dan memberikan contoh label tersebut kepada Departemen Perdagangan dalam hal ini Direktur Pengawasan Barang Beredar dan Jasa melalui email ditwasb2j@depdag.go.id maupun fax atau dikirim by pos. Baru setelah mendapat Surat Keterangan Pencantuman Label, maka produk tersebut baru bisa diedarkan. Atau dalam hal sebagai importer maka Surat Keterangan ini merupakan dokumen pabean yang harus dipenuhi yang menyertai Pemberitahuan Impor Barang.

Label ini tidak diperlukan bagi barang berbentuk curah dan atau yang dikemas dihadapan konsumen langsung, dan tidak juga untuk barang yang digunakan untuk bahan baku maupun bahan penolong dalam proses produksi.

Adapun barang-barang tersebut adalah sebagai berikut :
1. Elektronika, informatika, Telekomunikasi dan Alat Rumah Tangga :
Alat perekam, CD, Alat pemutar optic, Dispenser, Fax, Freexer, Kalkulator, Kamera, Kipas angina, Kalkulator, Mesin cuci, AC, Mikrohpone, Monitor, Keyboard, Blender, Pemanas air, Magic Jar, Rice cooker, Mixer, Printer, Toaster, Fotocopy, Juicer, Multi-fungsi, Speaker, Pengering, Vacuum cleaner, TV, Piano, Waterpump, Radio, Setrika, Telepon, Handphone, Oven, Laptop, Komputer, Proyekto, Kompor gas
2. Bahan bangunan:
Baja tulangan, Baja seng, Beton, Kaca lembaran, Keramik Saniter, Lembaran serat Krisotil, Semen, Thinner, Ubin keramik
3. Suku Cadang kendaraan bermotor
Ban, Baterai / AKI, Bantalan /bearing, Brake disk pad, Busi, Cairan rem, Cermin, End tie rod, Filter, Kaca pengaman (wind shield), Karburator, Koil penyalaan, Kopling, Mur roda, Pelek, Per (leaf/ coil), Perangkat pemberi tanda suara, Peredam kejut / teleskopik / hidraulik, Piston, Radiaotr, Rantai, Sabuk (belt), Sabuk pengaman, Sistem lampu dan bagiannya
4. Barang lainnya
Alas kaki, Jaket, Sarung tangan, Tas, Koper, Bingkai kacamata, Deterjen, Formulasi Pestisida, Jam, Kabel Listik, Kaos kaki, Kertas foto kopi, Korek api gas, Korek api kayu, KWH Meter, Lampu swaballast, MCB (pemutus sirkuit mini), Saklar, Kontak, Mainan anak, Pakaian jadi baik laki-laki atau wanita atau tekstil lainnya, Perangkat makan, Produk platik untuk keperluan rumah tangga, Pupuk, Tinta cetak, Cat


Semoga bisa membantu

Peraturan Menteri Perdagangan No. 22/M-DAG/PER/5/2010