ekspor | impor | perijinan | global trade

Subscribe:

KOMODITAS WAJIB STANDAR NASIONAL INDONESIA

STANDAR NASIONAL INDONESIA adalah satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia. SNI dirumuskan oleh Panitia Teknis dan ditetapkan oleh Badan Standarisasi Nasional(BSN).

Agar SNI memperoleh keberterimaan yang luas antara para stakeholder, maka SNI dirumuskan dengan memenuhi WTO Code of good practice, yaitu:

1. Openess (keterbukaan): Terbuka bagi agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat berpartisipasi dalam pengembangan SNI;
2. Transparency (transparansi): Transparan agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat mengikuti perkembangan SNI mulai dari tahap pemrograman dan perumusan sampai ke tahap penetapannya . Dan dapat dengan mudah memperoleh semua informsi yang berkaitan dengan pengembangan SNI;
3. Consensus and impartiality (konsensus dan tidak memihak): Tidak memihak dan konsensus agar semua stakeholder dapat menyalurkan kepentingannya dan diperlakukan secara adil;
4. Effectiveness and relevance: Efektif dan relevan agar dapat memfasilitasi perdagangan karena memperhatikan kebutuhan pasar dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
5. Coherence: Koheren dengan pengembangan standar internasional agar perkembangan pasar negara kita tidak terisolasi dari perkembangan pasar global dan memperlancar perdagangan internasional; dan
6. Development dimension (berdimensi pembangunan): Berdimensi pembangunan agar memperhatikan kepentingan publik dan kepentingan nasional dalam meningkatkan daya saing perekonomian nasional.


Lihat Peraturan Menteri Perdagangan No. 14/M-DAG/PER/3/2007

NPIK = Nomer Pengenal Importir Khusus

NPIK = Nomer Pengenal Importir Khusus adalah tanda pengenal sebagai importer khusus yang digunakan untuk mengimpor barang tertentu. Barang-barang tertentu / khusus tersebut yang memerlukan NPIK adalah :
1. Jagung
2. Gula
3. Kedelai
4. Beras
5. Mainan anak
6. Elektronika dan komponennya
7. Tekstil dan produk tekstil
8. Alas kaki


Detil dan peraturannya lihat di 05/DJPLN/KP/III/2002 tentang jenis barang impor yang wajib menggunakan NPIK.

Ketentuan baru per 15 Desember 2008 dimana ada lima golongan produk yang hanya diperbolehkan masuk melalui pelabuhan-pelabuhan yang ditentukan, yakni produk elektronik, tekstil, mainan anak-anak, makanan, dan minuman.


Produk ini merupakan lima dari delapan produk yang diwajibkan memakai Nomor Pengenal Impor Khusus (NPIK). Sedangkan lainnya adalah beras, jagung, dan kedelai. Adapun pelabuhan yang menjadi pintu masuk dalam sistem sentralisasi ini adalah Pelabuhan Belawan (Medan) Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Tanjung Emas (Semarang) dan pelabuhan internasional di Makassar.

Peraturannya di 44/M-DAG/PER/10/2008 KETENTUAN_IMPOR_PRODUK_TERTENTU

PIHAK-PIHAK YANG TERKAIT DENGAN EKSPOR

1. Eksportir / Shipper / Seller / Beneficiary
2. Importir / Consignee / Buyer / Applicant
3. Perusahaan Truck / Armada
4. Perusahaan EMKL / EMKU / PPJK
5. Pelayaran / Forwarding
6. Depo Container (Tempat penyimpanan container kosong)
7. Terminal Peti Kemas (TPKS) di Pelabuhan
8. Bea Cukai
9. Dinas Perdagangan
10. Sucofindo / Surveyor / Fumigator
11. Bank
12. Asuransi
13. Kantor Pajak / Sebagai pelaporan
14. Dsb (melihat produk/ komoditi yang diekspor)

Dokumen Ekspor

1. Commercial Invoice (wajib ada)
2. Packing list (wajib ada)
3. Bill of lading / Airway bill (wajib ada)
4. Certificate of origin / Surat keterangan asal
5. Fumigasi
6. Karantina hewan/ tumbuhan / ikan
7. Sertifikat mutu / Sertifikat halal / sehat
8. Asuransi
9. LS/ Laporan Surveyor
10. Dokumen lainnya yang dipersyaratkan sesuai dengan komoditinya

Barang yang Tidak Dikuasai

Barang yang Tidak Dikuasai (BTD) adalah barang yang setelah kedatangannya di pelabuhan melebihi batas waktu 30 hari tidak diurus, tidak diketahui pemiliknya, dan tidak melakukan pemberitahuan ke Bea dan Cukai.
Terhadap barang seperti ini Bea dan Cukai akan mengirimkan pemberitahuan kepada di empunya barang bahwa barang tersebut telah berstatus 'tidak dikuasai'. Sehingga barang tersebut ditarik dari pelabuhan dan dikirim ke balai lelang negara.
Pihak yang merasa memiliki barang tersebut diberikan waktu 60 hari sejak ditetapkannya barang ekspor/ impornya tersebut untuk melakukan pengurusan, jika waktu 60 hari tersebut tidak juga diurus maka akan dilelang oleh negara.
peraturannya di sini

Proses terjadinya kontrak penjualan (sales contract)


Dalam perdagangan internasional dikenal dengan adanya Sales Contract yang merupakan induk dari segala dokumen dalam perdagangan ekspor - impor. Dalam Sales contract tertuang perjanjian antara dua belah pihak penjual (eksportir) dengan pembeli (importir) mengenai hal-hal apa saja yang dipersyaratkan seperti nama barang, jumlah, kemasan, cara pembayaran, cara penyerahan barang, pelabuhan muat dan bongkar, waktu pengiriman, dan sebagainya. Sales contract terjadi dengan adanya promosi dari penjual, kemudian adanya permintaan dari pembeli, penawaran, pemesanan barang kemudian bila telah terjadi jual beli maka dituliskannya semua hal yang disepakati (terms of condition) di dalam sales contract tersebut. Berikut bagan dari proses terjadinya sales contract.

Media promosi / expo

Media-media promosi untuk menjaring pasar ekspor dapat dilakukan dengan media Internet, penawaran langsung, kunjungan, pameran, promo atau menghubungi kedutaan, kamar dagang atau agen-agen perdagangan luar negeri dsb. Media yang dapat diikuti untuk menjalin kerjasama dengan komunitas bisnis / exhibition spt :
ITPC (Indonesia Trade Promotion Centre)
ITCPDUBAI
ITCPLA
TFOCANADA
CBI-EU
JETRO (Japan External Trade Organization)
KOTRA (Korea Trade Agency)
MATRADE (Malaysia Trade)
TAIWANTRADE
IESINGAPORE (International Enterprise Singapore)

dsb.

Pengelompokan barang ekspor - Commodity classification

A. BARANG YANG DIATUR EKSPORNYA
Adalah barang ekspor yang hanya dapat diekspor oleh eksportir terdaftar : Contoh :
Kopi
Tekstil dan Produk tekstil, khusus untuk tujuan negara yang menerapkan kuota (Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, Norwegia dan Turki)
Lembaran kayu venir dan lembaran kayu lapis (disambungkan maupun tidak) dengan ketebalan tidak melebihi 6m
Kayu lapis, panil lapisan kayu dan kayu berlapis semacam itu
Kayu cendana dalam segala bentuk


B. BARANG YANG DIAWASI EKSPORNYA
Adalah barang yang ekspornya hanya dapat dilakukan dengan
persetujuan Menteri Perindustrian dan Perdagangan atau Pejabat yang
ditunjuk. Contoh :
Binatang jenis lembu, hidup (bibit sapi, sapi bukan bibit, kerbau)
Ikan dalam keadaan hidup (anak ikan Napoleon Wrasse, ikan Napoleon Wrasse, Nener)
Inti kelapa sawit
Minyak dan Gas Bumi
Pupuk Urea
Kulit Buaya dalam bentuk Wet Blue
Binatang liar dan tumbuhan alam yang tidak dilindungi termasuk dalam Appedix II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species)
Perak tidak ditempa atau dalam bentuk setengah jadi atau dalam bentuk bubuk, bukan tempa, setengah jadi.
Emas bukan tempa atau dalam bentuk bubuk
Lombah dan Skrap Fero, ingot hasil peleburan skrap besi atau baja (khusus yang berasal dari wilayah Pulau Batam)
Limbah dan skrap dari baja stainless, tembaga, kuningan dan aluminium.


C. BARANG YANG DILARANG EKSPORNYA
Adalah barang yang tidak boleh diekspor. Contoh :
Jenis hasil Perikanan dalam keadaan hidup :
Anak ikan Arwana
Ikan Arwana
Benih ikan sidat dibawah ukuran 5 mm
Ikan hias air tawar jenis boti macracanthus ukuran 15 cm ke atas.
Udang galah (udang air tawar) dibawah ukuran 8 cm
Karet bongkah
Kulit mentah, pickled dan wet blue dari binatang melata/reptil (kecuali kulit buaya dalam bentuk wet blue)
Limbah dari skrap fero, ingot hasil peleburan besi atau baja (kecuali yang berasal dari wilayah Pulau Batam) :
Limbah dan skrap dari timah, / baja paduan lainnya
Limbah dan skrap baja lainnya berbentuk gram, serutan dan lain-lainnya
Binatang liar dan tumbuhan alam yang dilindungi dan atau yang termasuk dalam Appendix I dan III CITES, dalam keadaan hidup, mati, bagian-bagian daripadanya, hasil-hasil daripadanya ataupun dalam bentuk barang yang dibuat daripadanya.
Barang kuno yang bernilai kebudayaan.

D. BARANG YANG BEBAS EKSPORNYA
Adalah yang tidak termasuk dari kategori di atas.
.

Selengkapnya disini

Ekspor (Pengertian) - Export is

EKSPOR adalah kegiatan mengeluarkan barang dari Daerah Pabean (UU kepabeanan No.17 TH.2006)

DAERAH PABEAN
Adalah Wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempat-tempat tertentu di zone ekonomi eksklusif dan landasan yang di dalamnya berlaku Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

Persiapan Ekspor - Impor - Preparation

Perlu saya sampaikan bahwa dalam memulai bisnis ekspor-impor perlu adanya persiapan-persiapan sebagai berikut :
A. Persiapan Administratif
Yang berhubungan dengan kegiatan administrasi (komputer, internet, email, fax, fotocopy, dll)
B. Persiapan Legalitas
Yang berhubungan dengan ijin-ijin prinsip atau lainnya (TDP, SIUP, NPWP, API, NPIK, ETPIK-BRIK dll)
C. Persiapan Fisik Barang
Kesiapan/ ketersediaan barang, jumlah, model pesanan serta hal-hal yang berhubungan dengan order / permintaan barang dari pembeli
D. Pengetahuan tentang ekspor-impor
Pengetahuan mengenai bisnis/ kegiatan/ proses penanganan ekspor dan impor.

iframe

..